JAKARTA (Lentera) - Pemerintah RI memberikan kabar terbaru terkait dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang hingga kini tertahan di Selat Hormuz.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, komunikasi dan negosiasi dengan otoritas Iran berjalan intensif demi memastikan kedua kapal dapat melintas dengan aman.
"Kita lagi sedang berkomunikasi terus," ujar Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, melansir Bloomberg, Jumat (10/4/2026).
Upaya ini dilakukan di tengah situasi Selat Hormuz yang belum sepenuhnya kondusif, meskipun otoritas Iran mulai membuka akses bagi sejumlah kapal untuk melintas pasca gencatan senjata di kawasan tersebut.
Bahlil juga memastikan pasokan energi nasional tetap aman. Hal ini karena pemerintah telah mengantisipasi potensi gangguan distribusi dengan melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah.
Dikatakannya, selama ini sekitar 20% hingga 25% impor minyak mentah Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah. Namun, sebagian kebutuhan tersebut kini telah dialihkan ke negara lain.
"Kita sudah mampu mendapatkan penggantinya dari beberapa negara, seperti Angola, Afrika, Nigeria, Amerika, dan beberapa negara lain. Jadi kita insyaallah sudah clear, insyaallah aman," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (8/4/2026).
Dari sisi diplomasi, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyebut proses negosiasi saat ini memasuki tahap pembahasan teknis. Juru Bicara II Kemlu RI, Vahd Nabyl Mulachela, menjelaskan sejumlah aspek krusial tengah difinalisasi.
"Saat ini terdapat beberapa hal teknis yang sedang ditindaklanjuti untuk memastikan keselamatan pelayaran, termasuk asuransi dan kesiapan kru kapal," ujarnya dalam konferensi pers.
Selain itu, Indonesia juga menekankan pentingnya penghormatan terhadap prinsip kebebasan navigasi sesuai hukum internasional, termasuk ketentuan dalam United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).
Sementara itu, pihak operator kapal, PT Pertamina International Shipping (PIS), memastikan koordinasi intensif terus dilakukan bersama Kemlu RI. Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menyatakan bahwa perkembangan situasi terus dipantau secara real time.
"PIS terus melakukan koordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri yang secara aktif menjalin komunikasi diplomatik dengan otoritas terkait. Hingga saat ini, upaya tersebut masih berjalan," ujarnya.
Ditambahkannya, berbagai persiapan teknis juga terus dimatangkan untuk memastikan kedua kapal dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman. "Bersama Kemenlu, kami memantau perkembangan 24 jam dan membahas kesiapan teknis agar kapal dapat melintas dengan selamat," imbuhnya.
Vega menegaskan, keselamatan awak kapal serta keamanan muatan menjadi prioritas utama perusahaan di tengah situasi geopolitik yang belum stabil.
Adapun tanker Pertamina Pride diketahui mengangkut hampir 2 juta barel minyak mentah dengan tujuan akhir Cilacap. Kapal tersebut semestinya tiba di Indonesia pada 2 April 2026, namun hingga kini masih tertahan di kawasan tersebut.
Sementara itu, tanker Gamsunoro tengah dalam perjalanan dari Pelabuhan Khur Al Zubair, Irak menuju Dubai, Uni Emirat Arab, untuk melayani pihak ketiga.
Di sisi lain, kondisi Selat Hormuz masih dipadati kapal-kapal tanker yang memilih menurunkan jangkar. Berdasarkan data pelacakan kapal Bloomberg hingga Kamis (9/4/2026), sedikitnya tujuh kapal terpantau berada di kawasan tersebut dalam kondisi penuh muatan.
Kapal-kapal tersebut terdiri dari milik China, Uni Emirat Arab, serta kapal tujuan India yang sebagian besar berstatus anchored atau menunggu kepastian situasi keamanan.
Meski demikian, aktivitas pelayaran belum sepenuhnya berhenti. Tercatat satu tanker minyak Iran tetap berlayar di sekitar Teluk Persia dengan membawa muatan penuh, meski jumlah kapal yang melintas masih jauh lebih sedikit dibandingkan kondisi normal sebelum konflik.
Sebagai salah satu jalur vital perdagangan energi global, Selat Hormuz sebelumnya dilalui sekitar seperlima distribusi minyak mentah dan LNG dunia.
Editor:Santi





.jpg)
