10 April 2026

Get In Touch

Ilmuwan Ungkap Peran Kecoak Bantu Mengurai Sampah Polistirena

Ilmuwan Ungkap Peran Kecoak Bantu Mengurai Sampah Polistirena

SURABAYA ( LENTERA ) - Senyawa dan mikroba dalam usus kecoak bekerja selayaknya tim yang mencacah sampah plastik. Penelitian terbaru ini dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science and Ecotechnology 

Penelitian itu mengungkap adanya peran kecoak dalam proses penguraian sampah plastik jenis polistirena. Plastik ini banyak digunakan sebagai bahan kemasan, namun dikenal sulit terurai secara alami dan membutuhkan waktu sangat lama untuk hancur setelah tidak lagi dipakai.

Para peneliti memperingatkan bahwa penumpukan polistirena berpotensi menimbulkan persoalan serius di masa mendatang. Mikroplastik yang berasal dari limbah ini diketahui dapat bertahan di tanah maupun perairan hingga ratusan tahun. 

Namun, temuan penelitian terbaru menunjukkan bahwa kecoak yang hidup di lingkungan kotor berpotensi menjadi salah satu alternatif untuk membantu mengatasi masalah limbah polistirena.

Kecoak dapat berperan dalam proses penguraian polistirena karena senyawa serta mikroba yang terdapat di dalam ususnya bekerja layaknya tim yang memecah plastik tersebut. 

Mikroba di saluran pencernaan kecoak mampu menguraikan plastik secara kimiawi, terutama melalui proses metabolisme mereka.
Selain kecoak, para ilmuwan sebelumnya juga menemukan serangga lain, seperti ulat tepung, yang mampu menggerogoti polistirena secara perlahan. Namun, laju penguraian plastik oleh hewan tersebut relatif lebih lambat dan kerap tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap proses pemecahan plastik.

Shan-Shan Yang, penulis studi tersebut, menyebut bahwa proses degradasi plastik pada serangga bukan semata-mata dipengaruhi oleh mikroba. Menurutnya, proses itu merupakan hasil kerja sama metabolisme yang terintegrasi.

“Kecoak tidak hanya sekadar menghancurkan polistirena ia memproses produk hasil penguraiannya secara metabolik melalui jalur energinya sendiri,” kata Yang, dikutip dari laporan Earth

Dalam penelitian tersebut, usus kecoak digambarkan sebagai semacam “jalur produksi” alami yang berevolusi untuk membantu mengolah polimer sintetis yang sulit terurai. 

Temuan ini dinilai dapat membuka peluang pengembangan sistem mikroba yang lebih efektif, misalnya melalui perangkat biologi sintetis untuk mendaur ulang atau menetralkan polistirena dalam lingkungan yang terkontrol.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa kemampuan kecoak mengurai polistirena tidak serta-merta menjadi solusi instan untuk mengatasi penumpukan sampah plastik. 

Studi ini justru menjadi langkah awal bagi para ilmuwan untuk mempelajari serta mengembangkan enzim dan mikroba yang terdapat di usus kecoak sebagai teknologi potensial untuk membantu mengurai polistirena di masa mendatang. 

Plastik jenis polistirena atau yang lebih akrab dikenal sebagai Styrofoam, kini menjadi perhatian serius para pemerhati lingkungan. Di balik kemudahannya sebagai wadah makanan, plastik dengan kode daur ulang nomor enam ini menyimpan ancaman besar bagi ekosistem dan kesehatan manusia.

Polistirena adalah polimer sintetis yang sangat populer karena biaya produksinya yang murah dan kemampuannya menjaga suhu makanan. Namun, sifatnya yang ringan justru menjadi bumerang bagi lingkungan. Sampah jenis ini sangat mudah terbawa angin dan air, hingga akhirnya menumpuk di lautan dan hancur menjadi mikroplastik yang berbahaya.(Ella - Mahasiswa UINSA, berkontribusi dalam tulisan ini)

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.