PALANGKA RAYA (Lentera) – Terhitung sejak awal April 2026, sebanyak delapan dapur penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kalimantan Tengah, termasuk satu unit di Kabupaten Lamandau, harus menghentikan operasionalnya sementara waktu.
Informasi ini dibenarkan oleh Kepala Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Nanga Bulik, Ayu Mutiara Simanjuntak, dimana dapur yang dikelolanya termasuk dalam daftar dapur SPPG yang harus berhenti beroperasi sementara.
"Saat ini kami tengah fokus melakukan perbaikan infrastruktur terlebih dahulu, sebagai langkah memenuhi standar kelayakan sanitasi dan instalasi pengolahan limbah," papar Ayu, Sabtu (4/4/2026).
Penghentian ini merujuk pada Keputusan Kepala Badan Gizi Nasional Nomor 401.1 Tahun 2025 tentang Petunjuk Teknis Tata Kelola Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis Tahun Anggaran 2026.
Selain itu, laporan dari Koordinator Regional Provinsi Kalteng per 31 Maret 2026, menunjukkan bahwa delapan unit yang dimaksud belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) yang sesuai standar.
Ayu menambahkan, SPPG di Kota Nanga Bulik dihentikan sementara waktu, untuk melakukan perbaikan IPAL agar sesuai standar yang ditetapkan.
"Hal ini penting untuk meminimalisir risiko terhadap kualitas produksi, mutu gizi, dan keamanan pangan,” jelasnya.
Berikut daftar delapan unit SPPG di Kalimantan Tengah yang terdampak kebijakan tersebut :
1. SPPG Nanga Bulik (Yayasan Kemala Bhayangkari, Lamandau).
2. SPPG Kota Palangka Raya – Pahandut Panarung 6 (Yayasan Obor Kalimantan Halendang).
3. SPPG Gunung Mas – Manuhing Tumbang Talaken (Yayasan Obor Kalimantan Halendang).
4. SPPG Kota Palangka Raya – Pahandut Langkai 6 (Yayasan Obor Kalimantan Halendang).
5. SPPG Kapuas – Selat Hulu (Yayasan Terang Anak Borneo).
6. SPPG Pulang Pisau – Kahayan Hilir Anjir (Yayasan Kemala Bhayangkari).
7. SPPG Murung Raya – Murung Beriwit (YPPSDP).
8. SPPG Seruyan – Kuala Pembuang 1 (Yayasan Cahaya Al Barkah Bambuduri).
Tidak bisa dipungkiri jika kebijakan ini menuai reaksi beragam di lapangan. Beberapa pelajar mengaku kecewa karena program yang belum lama berjalan ini, harus terhenti sebelum semua siswa merasakan manfaatnya secara merata.
Namun, di satu sisi, para orang tua justru memberikan dukungan penuh terhadap langkah evaluasi ini.
Salah satu orang tua siswa di Nanga Bulik, Rina, menilai aspek kesehatan jauh lebih penting daripada hanya mengutamakan kelangsungan program.
“Kami justru bersyukur jika program MBG dihentikan dulu sementara untuk perbaikan standar kebersihan, jangan sampai ada anak jatuh sakit akibat dapur yang tidak bersih, semoga perbaikannya cepat selesai, agar anak-anak bisa kembali menikmati MBG," tuturnya.
Hingga saat ini, masih belum ada batas waktu pasti kapan operasional kedelapan dapur MBG tersebut akan dibuka kembali.
Berdasarkan konfirmasi pihak pengelola, mereka masih menunggu hasil verifikasi kelayakan setelah proses perbaikan IPAL dan pengurusan SLHS selesai dilakukan.
Reporter : Novita/Editor:Santi




.jpg)
