03 April 2026

Get In Touch

China Blak-blakan Sebut AS-Israel Biang Keladi Krisis Selat Hormuz

BEIJING, KOMPAS.com - Pemerintah China secara tegas menyebut operasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran sebagai biang keladi dari blokade Selat Hormuz. Hal ini disampaikan Beijing setelah Presiden AS Donald Trump mendesak negara-negara
BEIJING, KOMPAS.com - Pemerintah China secara tegas menyebut operasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran sebagai biang keladi dari blokade Selat Hormuz. Hal ini disampaikan Beijing setelah Presiden AS Donald Trump mendesak negara-negara

BEIJING (Lentera) -Pemerintah China secara tegas menyebut operasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran sebagai biang keladi dari blokade Selat Hormuz. 

Hal ini disampaikan Beijing setelah Presiden AS Donald Trump mendesak negara-negara importir minyak untuk mengamankan sendiri jalur perairan vital tersebut, sebagaimana dilansir AFP.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning menyatakan bahwa gangguan navigasi di Selat Hormuz merupakan konsekuensi langsung dari serangan yang dilakukan pihak Washington dan Tel Aviv.

"Akar penyebab gangguan navigasi melalui Selat Hormuz adalah operasi militer ilegal AmS dan Israel terhadap Iran," ujar Mao Ning dalam sebuah konferensi pers pada Kamis (2/4/2026).

Pernyataan ini muncul sebagai respons atas seruan Trump yang meminta negara-negara terdampak untuk mengambil alih pengamanan Selat Hormuz. 

Jalur tersebut saat ini efektif ditutup oleh Teheran sebagai bentuk pembalasan atas serangan ke wilayah mereka.

Trump mendesak negara-negara penerima pasokan minyak untuk"mengambil, melindungi, dan menggunakannya untuk kepentingan sendiri atas jalur lintasan tersebut.

Di tengah merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap penanganan perang, Trump berusaha meyakinkan bahwa konflik ini akan segera berakhir. 

Namun, dalam pidato televisinya, dia justru memperingatkan adanya serangan berat selama dua hingga tiga minggu ke depan yang diklaim akan membawa Iran kembali ke "Zaman Batu".

Trump juga mengancam akan menargetkan infrastruktur kunci, termasuk pembangkit listrik, jika tidak ada kesepakatan yang dicapai dengan Teheran.  Menanggapi ancaman tersebut, China memperingatkan bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan konflik.

"Sarana militer tidak dapat menyelesaikan masalah secara mendasar, dan eskalasi konflik tidak sesuai dengan kepentingan pihak mana pun," tegas Mao Ning, mengutip Kompas.

Dampak ekonomi

China sendiri merupakan importir utama minyak Iran, di mana sebagian besar pasokannya melewati Selat Hormuz. 

Penutupan jalur navigasi ini telah memicu guncangan pada pasar energi global, dengan harga minyak dunia melonjak antara 40 hingga 50 persen.

Sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu, harga minyak mentah jenis Brent telah merangkak naik hingga menyentuh angka 100 dollar AS per barel. 

Situasi ini diperparah dengan serangan balasan Iran terhadap instalasi minyak di beberapa negara Teluk.

Sektor penerbangan menjadi salah satu industri yang paling terdampak. Sejumlah maskapai besar seperti Air France-KLM, Cathay Pacific, Air India, Qantas, dan SAS telah menaikkan harga tiket mereka.

Langkah ini diambil untuk menyesuaikan kenaikan harga bahan bakar jet dan melakukan pengalihan rute guna menghindari wilayah konflik.

Di China, maskapai nasional Air China bersama beberapa maskapai domestik lainnya mengumumkan akan menaikkan biaya tambahan bahan bakar pada penerbangan domestik mulai hari Minggu (5/4/2026)*

Editor: Arifin BH

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.