03 April 2026

Get In Touch

Vaksinasi Campak Dewasa Dikaji Pusat, Dinkes Kota Malang Perketat Prokes dan APD

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif. (Santi/Lentera)
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang memperketat protokol kesehatan (prokes) dan penyediaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga kesehatan (nakes), di tengah rencana vaksinasi campak untuk orang dewasa yang kini sedang dikaji oleh pemerintah pusat.

"Kami belum menerima aturannya. Tetapi kalau sudah ada prosedurnya, vaksinasi tentu bisa dilakukan langsung di tempat kerja tenaga kesehatan," ujar Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif, Kamis (2/4/2026).

Selama ini, program vaksinasi campak di Indonesia menargetkan anak-anak berusia 9 bulan hingga 13 tahun. Namun, nakes dianggap berisiko tinggi karena berinteraksi dengan berbagai kelompok usia dan pasien yang mungkin terinfeksi. 

Terlebih pad Maret 2026 lalu, publik menyoroti meninggalnya dokter internship berinisial AMW (25), akibat terpapar campak setelah tetap bertugas menjalani program internship di salah satu RSUD Jawa Barat.

Husnul menyebutkan, hingga saat ini pihaknya tetap fokus pada langkah proteksi awal. APD disediakan untuk nakes di seluruh fasilitas kesehatan, mulai dari Puskesmas, RSUD, laboratorium kesehatan daerah (Labkesda), hingga Dinkes sendiri.

"Di luar itu, kami tetap mengimbau agar APD digunakan dengan baik," tambahnya.

Dalam praktik sehari-hari, nakes dan tenaga medis menurutnya telah menggunakan masker, sarung tangan, dan melakukan handscrub. "Baju APD lengkap seperti saat pandemi Covid-19 belum digunakan, tetapi persediaannya cukup di puskesmas-puskesmas," kata Husnul.

Mengenai kemungkinan vaksinasi skala besar seperti saat pandemi Covid-19, Husnul menekankan hal tersebut juga masih menunggu analisis dari Kemenkes.

"Jika eskalasi kasus meningkat, kemungkinan ada surat-surat resmi untuk pelaksanaan vaksinasi massal bagi nakes, mirip saat pandemi dulu," jelasnya.

Sementara itu, melansir Antara, Kemenkes tengah menunggu hasil klarifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkait studi efikasi vaksin campak untuk kategori dewasa. 

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menjelaskan, "Vaksinasi ini penting untuk anak-anak, tetapi sebenarnya ada studi untuk orang dewasa. Kami meminta klarifikasi BPOM agar memastikan vaksin ini efektif untuk dewasa."

Setelah menerima respons dari BPOM, Kemenkes akan langsung menyelenggarakan imunisasi bagi nakes dengan risiko penularan tinggi. Tahap awal program akan menyasar 10 daerah prioritas dengan kasus tertinggi, termasuk Tangerang Selatan, Tangerang, Bima, Palembang, Pandeglang, Jakarta Barat, Depok, Palu, Serang, dan Jakarta Pusat.

Di Kota Malang sendiri, per Maret 2026 belum ada kasus campak yang terkonfirmasi. Namun, ada sekitar 100 kasus suspek yang tercatat di seluruh 16 Puskesmas.

Seluruh sampel suspek dikumpulkan untuk pemeriksaan lebih lanjut di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya. "Jika dari pemeriksaan awal terindikasi campak, baru kemudian dikirim ke Jakarta untuk konfirmasi lebih lanjut," jelas Husnul.

 

Reporter:Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.