03 April 2026

Get In Touch

Lewat "7 Jurus BK Hebat", Dindik Jatim Perkuat Peran Guru Sebagai Pembimbing

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur, Aries Agung Paewai.
Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur, Aries Agung Paewai.

SURABAYA (Lentera) - Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur terus memperkuat peran guru sebagai pembimbing siswa. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui pelatihan bertajuk “7 Jurus BK Hebat” yang digelar Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Wilayah Surabaya-Sidoarjo pada 31 Maret hingga 3 April 2026.

“Guru BK tidak hanya menjadi penyelesai masalah, tetapi harus mampu menjadi pencari solusi atas harapan dan cita-cita siswa,” ujar Kepala Dindik Jawa Timur, Aries Agung Paewai, Rabu (1/4/2026).

Dikatakannya, pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas guru dalam membimbing siswa. Pasalnya, peran guru Bimbingan Konseling (BK) saat ini harus bersifat transformatif. Khususnya di tengah perubahan kurikulum dan perkembangan karakter anak yang semakin dipengaruhi teknologi.

Adapun tujuh jurus BK Hebat yang diperkenalkan dalam pelatihan ini meliputi mengenali potensi, mengelola emosi, menumbuhkan resiliensi, menjaga konsistensi, menjalin koneksi, memperkuat kolaborasi, serta menata situasi.

Aries juga menyebutkan, kegiatan ini diikuti ratusan guru mata pelajaran dari SMA, SMK, dan SLB negeri maupun swasta, serta kepala sekolah di wilayah Surabaya dan Sidoarjo.

Ia menambahkan, guru BK memiliki peran strategis dalam memetakan kondisi psikologis sekaligus potensi siswa, baik di bidang akademik maupun non-akademik. Karena itu, melalui program “7 Jurus BK Hebat”, Dindik Jatim mendorong peningkatan kompetensi guru agar mampu memahami karakter peserta didik secara lebih komprehensif.

Dalam pelatihan tersebut, pemanfaatan teknologi dan data siswa juga menjadi salah satu fokus. Aries menilai penggunaan teknologi penting untuk membantu identifikasi kebutuhan siswa, terutama di tengah keterbatasan jumlah guru BK. Namun, ia menegaskan interaksi langsung tetap menjadi kunci utama.

“Dialog terkait masalah psikologis tetap harus dilakukan antarmanusia, tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh kecerdasan buatan,” tegasnya.

Selain itu, kolaborasi antara guru BK, guru mata pelajaran, wali kelas, dan orang tua juga ditekankan sebagai bagian dari upaya menemukan solusi terbaik bagi siswa.

Dindik Jatim juga mulai menyosialisasikan pembatasan penggunaan gawai di lingkungan sekolah. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan konsentrasi belajar, mendorong interaksi sosial, serta menjaga kualitas proses pembelajaran.

Sejumlah sekolah bahkan telah menyiapkan fasilitas penyimpanan gawai selama jam pelajaran.

Sementara itu, Kepala Cabdindik Wilayah Surabaya–Sidoarjo, Kiswanto, menjelaskan pelatihan ini tidak hanya menyasar guru BK, tetapi juga guru mata pelajaran.

“Ini sejalan dengan program Kementerian Pendidikan bahwa semua guru adalah pembimbing. Jadi tidak hanya guru BK, seluruh guru harus mampu mendampingi siswa,” katanya.

Ia menyebut pelatihan ini diikuti 227 guru mata pelajaran serta 222 kepala sekolah negeri dan swasta. Para peserta yang mengikuti pelatihan diproyeksikan menjadi fasilitator di sekolah masing-masing.

“Guru yang dilatih hari ini kami harapkan akan menjadi fasilitator daerah, kemudian mengimbaskan ilmunya kepada guru lain di sekolah,” jelasnya.

Kiswanto menambahkan, pelatihan tidak hanya berisi materi, tetapi juga praktik dan simulasi penyelesaian masalah siswa. Para narasumber berasal dari fasilitator nasional, akademisi, serta fasilitator daerah.

"Melalui pelatihan ini, diharapkan para guru dapat mengedepankan pendekatan humanis berbasis kasih sayang dalam mendampingi siswa, seiring meningkatnya tantangan pendidikan di era digital," tutupnya.

Reporter: Amanah/Editor:Santi

 

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.