SURABAYA (Lentera) - Pola makan yang tidak terkontrol saat momen Lebaran berpotensi memicu risiko obesitas. Terlebih jika tidak diimbangi dengan pola hidup sehat yang telah berangsur diterapkan selama bulan Ramadan.
“Ketika pola makan kembali tidak teratur dan porsi makan meningkat, maka risiko obesitas juga ikut meningkat,” kata Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surabaya, Firman, dikutip pada Senin (23/3/2026).
Firman menjelaskan, obesitas merupakan kondisi kelebihan berat badan akibat penumpukan lemak yang berlebihan dalam tubuh. Hal tersebut terjadi ketika asupan energi dari makanan lebih besar dibanding energi yang digunakan tubuh untuk beraktivitas.
Menurutnya, obesitas kini menjadi masalah kesehatan global. Berdasarkan Global Report 2023, lebih dari 2 miliar penduduk dunia mengalami kelebihan berat badan dan obesitas. Bahkan, diperkirakan pada tahun 2030 sekitar 1 dari 5 perempuan dan 1 dari 7 laki-laki akan hidup dengan obesitas.
“Banyak penelitian menyebutkan obesitas menjadi faktor risiko utama berbagai penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, serangan jantung, gagal ginjal, hipertensi, hingga kanker. Kondisi ini juga berkontribusi terhadap 5,87 persen angka kematian di dunia,” jelasnya.
Selain berdampak pada kesehatan, obesitas juga menimbulkan kerugian ekonomi karena meningkatnya biaya pengobatan penyakit penyerta (komorbid) yang memerlukan perawatan jangka panjang. Karena itu, obesitas kini sudah digolongkan sebagai penyakit yang memerlukan penanganan serius dan komprehensif.
Guna mencegah hal itu, Firman membagikan sejumlah tips yang bisa dilakukan masyarakat untuk mencegah obesitas setelah Lebaran.
Pertama, memenuhi asupan protein harian. Konsumsi protein dapat meningkatkan metabolisme tubuh hingga 80-100 kalori per hari serta membuat tubuh merasa kenyang lebih lama, sehingga efektif mengurangi kebiasaan ngemil.
Kedua, rutin melakukan aktivitas fisik. Masyarakat disarankan melakukan olahraga ringan seperti jogging, jalan santai, atau senam selama 30 menit setiap hari, atau minimal 3-5 kali dalam seminggu.
"Aktivitas fisik yang teratur dapat membantu membakar lemak dan mencegah penumpukan kalori berlebih," tuturnya.
Ketiga, membatasi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, seperti minuman bersoda, jus kemasan, maupun minuman manis lainnya. Konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit seperti diabetes dan gangguan ginjal.
Selain itu, ia juga menyarankan masyarakat menerapkan pola makan rendah karbohidrat secara seimbang untuk membantu menjaga berat badan tetap stabil setelah Lebaran.
“Yang paling penting adalah menjaga pola hidup sehat secara konsisten, agar kebiasaan baik selama Ramadan tidak hilang setelah Lebaran,” pungkasnya.
Reporter: Amanah/Editor:Santi





.jpg)
