08 March 2026

Get In Touch

Bupati Jember Ajak Tokoh Pemuda dan Mahasiswa Bersinergi Wujudkan Jember Baru - Jember Maju

Bupati Jember Gus Fawait saat berdialog dengan perwakilan organisasi kepemudaan dan BEM mahasiswan se-Jember.
Bupati Jember Gus Fawait saat berdialog dengan perwakilan organisasi kepemudaan dan BEM mahasiswan se-Jember.

JEMBER (Lentera) - Pemerintah Kabupaten Jember menggelar kegiatan Buka Puasa Bersama dan Silaturahmi Tokoh Pemuda sebagai bagian dari upaya memperkuat komunikasi antara pemerintah daerah dengan kalangan pemuda dan mahasiswa. Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Wahyawibawagraha, Jember, Sabtu (7/3/2026). Ini menjadi ruang dialog terbuka antara pemimpin daerah dengan berbagai organisasi kepemudaan serta Badan Eksekutif Mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Jember.

 

Dalam sambutannya, Bupati Gus Fawait menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan forum silaturahmi yang diharapkan tidak hanya berlangsung setahun sekali, tetapi dapat dijadwalkan secara rutin agar menjadi wadah diskusi bersama dalam membangun daerah.

Menurutnya, pemerintah daerah sangat membutuhkan gagasan dan pemikiran segar dari generasi muda, khususnya mahasiswa yang dinilai memiliki sudut pandang kritis serta mampu berpikir di luar kebiasaan.

“Saya sebagai Bupati Jember membutuhkan banyak masukan dan ide-ide segar, terutama dari adik-adik mahasiswa. Pemikiran mahasiswa biasanya masih sangat orisinal dan berani berpikir out of the box,” ujar Bupati Jember Gus Fawait.

Ia menambahkan, forum seperti ini penting agar pemerintah tidak hanya menerima laporan formal dari jajaran birokrasi, tetapi juga memperoleh gambaran kondisi riil di tengah masyarakat. “Saya tidak ingin hanya menerima laporan yang baik-baik saja dari OPD. Saya perlu tahu kondisi sebenarnya di lapangan. Karena itu saya membutuhkan masukan dari organisasi kepemudaan dan mahasiswa,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Fawait juga memaparkan sejumlah tantangan besar yang dihadapi Kabupaten Jember ketika dirinya mulai menjabat lebih dari satu tahun lalu. Salah satu persoalan utama adalah tingginya angka kemiskinan. Secara absolut, Jember menempati posisi kedua tertinggi di Jawa Timur, sementara untuk kategori kemiskinan ekstrem, Jember menjadi yang tertinggi di provinsi tersebut.

Di awal masa kepemimpinannya, sektor kesehatan menjadi perhatian utama pemerintah daerah. Saat itu, Pemkab Jember menghadapi berbagai kendala, termasuk utang rumah sakit daerah yang mencapai Rp214 miliar serta kondisi tiga rumah sakit daerah yang hampir mengalami kolaps.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah daerah melakukan berbagai langkah efisiensi anggaran, termasuk menunda pengadaan kendaraan dinas, mengurangi kegiatan seminar, serta memangkas belanja yang tidak berkaitan langsung dengan pengentasan kemiskinan.

Langkah efisiensi tersebut kemudian dialihkan untuk memperkuat sektor kesehatan, termasuk memperluas jaminan kesehatan masyarakat melalui program Universal Health Coverage (UHC) Prioritas.

Dampaknya, rumah sakit daerah di Jember mulai kembali stabil secara finansial. Bahkan, pendapatan RSUD dr. Soebandi meningkat signifikan dari sekitar Rp15 miliar menjadi Rp31 miliar dalam waktu kurang dari satu tahun.

Selain sektor kesehatan, pemerintah daerah juga memprioritaskan perbaikan infrastruktur pendidikan. Data yang diterima pemerintah menunjukkan bahwa terdapat 1.532 sekolah di Jember yang mengalami kerusakan berat. Pemerintah Kabupaten Jember kemudian melakukan perbaikan besar-besaran dengan dukungan anggaran dari APBD dan APBN. Pada tahun 2025, hampir 40 persen sekolah rusak berat telah diperbaiki.

Tidak hanya itu, pemerintah daerah juga meluncurkan program beasiswa bagi 20.000 mahasiswa asal Jember.

Pemerintah Kabupaten Jember juga mengembangkan sistem pengaduan publik bernama “Wadul Gus’e”, yang memungkinkan masyarakat menyampaikan berbagai persoalan secara langsung kepada pemerintah daerah. Hingga saat ini, tercatat hampir 12 ribu aduan masyarakat masuk melalui kanal tersebut, dengan tingkat penyelesaian mencapai sekitar 87 persen.

Selain itu, Pemkab Jember juga melakukan reformasi layanan administrasi kependudukan dengan menyediakan fasilitas pencetakan KTP di 28 kecamatan di luar wilayah perkotaan.

Kebijakan tersebut diambil untuk mempermudah masyarakat di wilayah pinggiran yang sebelumnya harus menempuh perjalanan jauh ke kantor Dispendukcapil di pusat kota.

Gus Fawait juga mengajak mahasiswa untuk tetap menjaga sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah, namun dengan pendekatan yang konstruktif dan berbasis solusi. “Mahasiswa harus tetap kritis, tetapi kritik yang membangun. Kritik yang disertai solusi,” ujarnya.

Ia menilai mahasiswa memiliki peran penting dalam memberikan perspektif baru dalam pembangunan daerah. Di akhir sambutannya, Gus Fawait menegaskan bahwa ukuran keberhasilan pemerintah daerah tidak terletak pada banyaknya program yang dijalankan, melainkan pada penurunan angka kemiskinan.

“Tujuan utama pembangunan adalah kesejahteraan masyarakat. Ukurannya jelas, yaitu angka kemiskinan,” tegasnya.

Ia berharap, melalui sinergi antara pemerintah, pemuda, mahasiswa, serta seluruh elemen masyarakat, Kabupaten Jember dapat bergerak menuju masa depan yang lebih baik. Kegiatan silaturahmi tersebut kemudian ditutup dengan tausiyah keagamaan serta doa bersama, dengan harapan agar seluruh ikhtiar pembangunan yang dilakukan dapat membawa Jember menuju cita-cita besar: Jember Baru, Jember Maju. (mok/ads)

Editor: Arifin BH

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.