13 February 2026

Get In Touch

Mengenang Adi Sutarwijono, Bambang DH: Bersahaja, Gak Neko-Neko

Mendiang Ketua DPRD Kota Surabaya, Adi Sutarwijono bersama Bambang DH dalam salah satu kegiatan PDIP di Surabaya. (Dok.istimewa)
Mendiang Ketua DPRD Kota Surabaya, Adi Sutarwijono bersama Bambang DH dalam salah satu kegiatan PDIP di Surabaya. (Dok.istimewa)

SURABAYA (Lentera)-Kepergian Ketua DPRD Kota Surabaya, Adi Sutarwijono--akrab disapa Awi--meninggalkan duka yang terasa personal. Bukan hanya bagi keluarga, melainkan juga bagi sahabat dan kolega yang mengenalnya sejak ia masih membawa buku catatan dan pena sebagai wartawan.

Awi lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang guru sekolah dasar. Ia tumbuh di Blitar, kota yang menyimpan jejak Bung Karno. Tak ada riwayat politik dalam silsilah keluarganya. 

Pendidikan dasar hingga SMA ia selesaikan di kota kelahiran, sebelum melanjutkan studi ke Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, mengambil jurusan Ilmu Politik--satu almamater dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Meski belajar politik, Awi tak serta-merta terpikat pada panggung kekuasaan. Ia justru memilih jalan sunyi jurnalistik. Kariernya ditempa di Harian Surya dan Koran Tempo. Dunia pers membentuk cara pandangnya yang kritis, hati-hati, dan menjunjung integritas.

Masuknya Awi ke politik bukan sesuatu yang dirancang sejak awal. Intensitas liputan dan perjumpaannya dengan banyak tokoh membuatnya kian dekat dengan PDI Perjuangan, partai yang punya akar kuat di Surabaya.

Namanya mulai dikenal luas ketika ia ditangkap aparat saat meliput peristiwa 27 Juli 1996 di Surabaya. Bersama fotografer Jawa Pos, Becky Subeki, ia mengalami kekerasan aparat pada masa Orde Baru.

“Awi ini wartawan korban 27 Juli di Surabaya. Bersama fotografer Jawa Pos, Becky Subeki, ditangkap aparat dan dihajar. Keduanya mengalami trauma luar biasa atas kekejaman Orde Baru saat itu,” kenang Bambang DH.

Rekam jejak itu dengan ditambah reputasinya sebagai wartawan Tempo yang teguh memegang integritas, menjadi modal moral ketika ia dipercaya memimpin DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya. Pada periode 2019–2024, Awi menjabat Ketua DPC sekaligus terpilih sebagai Ketua DPRD Kota Surabaya. Amanah itu kembali ia emban untuk periode 2024–2029.

Namun jabatan tak pernah mengubah caranya bersikap.“Bersahaja, gak neko-neko,” kata Bambang DH singkat.

Awi dikenal rendah hati dan egaliter. Rumah pribadinya terbuka bagi siapa saja. Mulai kader, warga, juga wartawan dipersilakan untuk datang. Di ruang tamunya ada sofa panjang dan beberapa kursi sederhana. Siapa pun boleh duduk, menyampaikan keluh kesah, atau sekadar berbincang. Tak jarang, ia mengajak tamu sarapan bersama.

“Menunya bisa ditebak,  tempe goreng, telur, ayam, dan sayur. Di meja makan sederhana itu, Awi mempersilakan tamunya makan bersama,” tutur Kirno, orang dekat yang mendampinginya hampir 16 tahun.

Sikap terbuka itu tak luntur ketika ia menjadi Ketua DPRD. Rumah dinasnya tak memiliki prosedur berbelit. Siapa pun bisa menemuinya. Pesannya sederhana: jika tak sempat pagi, datanglah malam hari.

Jabatan tak membuatnya jumawa. Rumah pribadinya hanya satu, dibeli saat ia masih menjadi wartawan.

“Kalau nanti tidak lagi menjadi Ketua DPRD, semua fasilitas ini akan saya kembalikan. Mobil pun saya tidak punya,” ujarnya suatu ketika.

Bagi Awi, politik bukan jalan untuk memperkaya diri. Ia kerap mengatakan, tak masuk akal menjadi “kaya sendiri” ketika masih banyak kader dan warga yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar, baik pendidikan, tempat tinggal maupun kesehatan.

Di balik segala keterbatasannya sebagai manusia, Adi Sutarwijono meninggalkan jejak yang tak kecil. Integritas, kesederhanaan, dan keterbukaan adalah warisan yang akan terus dikenang.

Selamat jalan, Cak Awi. Jejak pengabdianmu akan tetap hidup, dalam ingatan dan percakapan yang tak selesai.(*)

Editor:Widyawati

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.