13 February 2026

Get In Touch

Marak Fenomena Self-Diagnose GERD, Peneliti UB Ciptakan Website untuk Skrining Awal

Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus dosen dan peneliti UB, Dr. dr. Syifa Mustika Sp.PD., K-GEH., bersama Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. (dok. Humas UB)
Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus dosen dan peneliti UB, Dr. dr. Syifa Mustika Sp.PD., K-GEH., bersama Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. (dok. Humas UB)

MALANG (Lentera) - Peneliti sekaligus dosen Universitas Brawijaya (UB) menciptakan website, untuk membantu skrining awal penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).

Hal ini dilatarbelakangi maraknya fenomena self-diagnose atau masyarakat yang mendiagnosis diri sendiri mengalami GERD, tanpa memahami dasar yang jelas.

"SmartGerdX adalah website inovasi kesehatan terkait GERD. Bertujuan membantu masyarakat awam dalam memahami GERD. Karena masih banyak orang yang mengklaim dirinya mengalami GERD tanpa dasar yang jelas," ujar dokter spesialis penyakit dalam sekaligus dosen UB, Dr. dr. Syifa Mustika Sp.PD., K-GEH., Kamis (12/2/2026).

Dijelaskannya, SmartGerdX bekerja melalui kuesioner yang dikembangkan dari kuesioner GERD-Q yang telah teruji secara klinis.

Menurut dr. Syifa, pengguna hanya perlu menjawab 6 pertanyaan yang telah dimodifikasi. Kemudian sistem akan menampilkan skor risiko GERD beserta rekomendasi penggunaan obat dan modifikasi gaya hidup sesuai skor yang diperoleh.

"Sebagai praktisi gastro, sering pasien datang dan mengatakan dirinya GERD, padahal belum ada pemeriksaan atau penilaian klinis. Inovasi ini hadir agar masyarakat tidak termakan informasi yang tidak terverifikasi," jelasnya.

Inovasi ini telah diaplikasikan kepada 250 warga di Banyuwangi pada Desember 2025 dan dapat diakses secara luas melalui SmartGerdX.com. Keberhasilan ini pun mendapat apresiasi langsung dari Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani.

Sejak dikembangkan pada 2024, SmartGerdX juga berhasil masuk dalam 117 karya inovasi Business Innovation Center (BIC) Kementerian Riset dan Teknologi, membuktikan keberlanjutan riset akademik yang bisa langsung memberikan dampak nyata.

SmartGerdX merupakan bagian dari ekosistem yang dibangun oleh Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) UB, yang bertugas memastikan penelitian dosen tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi bergerak menuju perlindungan kekayaan intelektual, inkubasi, dan aplikasi langsung untuk masyarakat.

Di sisi lain, Kepala Subdirektorat Inovasi dan Transfer Teknologi (PITT) DIKST, Dias Satria, SE., M.App.Ec., Ph.D, menekankan kiprah dr. Syifa menjadi contoh nyata praktik research downstreaming.

"Keahlian medis yang dikembangkan di lingkungan akademik difasilitasi oleh DIKST, kemudian diimplementasikan di daerah yang membutuhkan. Hasilnya bukan hanya inovasi teknologi, tetapi juga model kolaborasi kampus-pemerintah yang terukur dan operasional," ujar Dias.

 

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.