01 March 2026

Get In Touch

Imlek, Migrasi Terbesar Antero Bumi

Orang-orang membeli dekorasi sebagai persiapan untik Festival Musim Semi di Shenyang, Provinsi Liaoning (AFP)
Orang-orang membeli dekorasi sebagai persiapan untik Festival Musim Semi di Shenyang, Provinsi Liaoning (AFP)

SURABAYA (Lentera) Denyut mudik Imlek mulai berdetak kencang di China. Ratusan juta orang berbondong-bondong pulang ke kampung halaman. Pemerintah China memperkirakan 9,5 miliar perjalanan penumpang dalam mudik terbesar antero Bumi tersebut.

Menjelang Imlek menjadi momen mendebarkan bagi rakyat China. Bukan hanya karena waktu bertemu kerabat semakin dekat, melainkan juga kekhawatiran tidak mendapatkan tiket pulang yang diperebutkan banyak orang.

Hal itu pula yang membuat Liu (32) sedikit stres pada mudik tahun ini. Seperti halnya di Indonesia, lonjakan harga tiket transportasi saat mudik kerap terjadi di China. Transportasi darat, laut, dan udara tidak jauh berbeda.

”Mengapa saya merasa lebih menegangkan untuk membeli tiket tahun ini dibandingkan tahun lalu? Sebab, tiket penerbangan pulang ke rumah saya sudah habis terjual,” ujarnya saat akan terbang dari bandara di Guangzhou, China, Senin (9/2/2026).  Untungnya, Liu telah memesan tiket jauh-jauh hari. Ia pun dapat mudik dengan lancar untuk merayakan Imlek bersama keluarga pada 17 Februari mendatang.

Tradisi pulang kampung di China saat Imlek disebut chunyun. Chunyun disebut sebagai puncak perayaan musim semi. Periodenya berlangsung selama 40 hari. Tahun ini, periodenya jatuh pada 2 Februari hingga 13 Maret. Pemerintah China menetapkan libur resmi selama sembilan hari untuk merayakannya.

Chunyun menjadi momen kebahagiaan. Menjelang Imlek, masyarakat China membersihkan rumah dan menghiasinya dengan beragam ornamen. Makan bersama keluarga pada malam pergantian tahun menjadi momen yang paling dinantikan. Ada juga tradisi pembagian angpau sebagai simbol keberuntungan dan berbagi kebahagiaan.

Tidak selalu mudah

Akan tetapi, meraih momen bahagia itu tak selalu mudah. Banyak rakyat China yang harus menempuh perjalanan jauh, bahkan antarnegara. Peningkatan jumlah pemudik menaikkan permintaan perjalanan. Lonjakan harga tiket pun tak terbendung.

Dua warga mengambil gambar lentera yang menghiasi Taman Dunia di Beijing, China, pada Sabtu (7/2/2026), menjelang Imlek (AFP)
Dua warga mengambil gambar lentera yang menghiasi Taman Dunia di Beijing, China, pada Sabtu (7/2/2026), menjelang Imlek (AFP)

”Jika Anda tidak membeli tiket lebih awal, kisaran harga sangat berfluktuasi, bahkan bisa berlipat ganda,” kata Liu.

Pemerintah China memperkirakan rekor sekitar 9,5 miliar perjalanan penumpang selama mudik Imlek tahun ini. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun lalu dengan 9,02 miliar perjalanan.

Menurut kantor berita Xinhua, selama 2-8 Februari, perjalanan darat melebihi 1,3 miliar perjalanan. Sementara pengguna moda kereta api mencapai 86 juta penumpang. Perjalanan lewat jalur air lebih dari 4,9 juta penumpang dan via udara melebihi 16 juta penumpang.

Beberapa platform travel melaporkan tingginya pemesanan tiket transportasi pada Imlek tahun ini. Pada pertengahan Januari, pemesanan tiket penerbangan domestik selama masa liburan Imlek lebih dari 4,13 juta penumpang. Jumlah itu naik sekitar 21 persen dari tahun sebelumnya.

Mudik melalui jalur udara diperkirakan akan mencapai 95 juta perjalanan. Sementara pemudik yang menggunakan kereta api diperkirakan mencapai 540 juta orang. Jika tercapai, jumlah tersebut akan melampaui perjalanan penumpang pada mudik Imlek tahun lalu.

Masyarakat China menyambut Imlek dengan berbagai kemeriahan. Di Provinsi Sichuan, misalnya, digelar Festival Lampion Internasional Zigong sejak akhir Januari lalu. Lampion merupakan ciri khas tradisional perayaan Imlek yang melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan bimbingan.

Barometer ekonomi

Bagi China, mudik Imlek bukan fenomena perjalanan biasa. Chunyun bisa dijadikan barometer untuk memotret kondisi ekonomi negara tersebut. Selama masa liburan, sektor ekonomi menggeliat, mulai dari transportasi, penginapan, kuliner, destinasi wisata, hingga suvenir.

Seorang seniman jalanan menyemburkan api saat pertunjukan menjelang perayaan Imlek di sebuah desa di Huai'an, Provinsi Jiangsu, China, pada Sabtu (7/2/2026) (AFP)
Seorang seniman jalanan menyemburkan api saat pertunjukan menjelang perayaan Imlek di sebuah desa di Huai'an, Provinsi Jiangsu, China, pada Sabtu (7/2/2026) (AFP)

Pusat-pusat perbelanjaan ramai dikunjungi. Warga berlibur ke berbagai destinasi wisata. Para pelancong mengeluarkan uang untuk bepergian dan berbelanja. Roda perekonomian masyarakat pun berputar kencang.

Imlek yang jatuh pada 17 Februari menandai awal Tahun Kuda Api. Produk suvenir dan aktivitas bertema kuda pun ramai diminati warga. Anak-anak memburu mainan berbentuk kuda, sementara para orangtua menikmati wisata imersif bertema kuda.

Di Museum Provinsi Gansu, misalnya, wisatawan berbondong-bondong melihat koleksi museum ”Kuda Hijau”. Patung berupa kuda yang membawa batangan emas itu merupakan interpretasi modern dari patung kuda perunggu yang menjadi ikon museum.

Direktur Kreatif Pusat Budaya Museum Provinsi Gansu, Wu Xiaoyu, mengatakan, desain tersebut berfokus pada makna keberuntungan, kekayaan, dan harapan akan tahun baru yang makmur. Di pasar-pasar di banyak provinsi, boneka berbentuk kuda mendominasi etalase toko-toko suvenir.

Imlek tahun ini tinggal menghitung hari. Miliaran orang Tionghoa pulang menjemput kebahagiaan ke kampung halaman. Doa dan harapan dipanjatkan agar disertai kebaikan dalam menjalani Tahun Kuda Api (*)

Editor: Arifin BH/Kompas/Reuters/AFP

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.