10 February 2026

Get In Touch

Guru Besar UB Ungkap Tren Hamil Anggur Naik Tiap Tahun, Pola Makan Jadi Kunci Pencegahan

Guru Besar Universitas Brawijaya (UB) Prof. Dr. dr. Tatit Nurseta, Sp. O.G., Subsp. Onk. (Santi/Lentera)
Guru Besar Universitas Brawijaya (UB) Prof. Dr. dr. Tatit Nurseta, Sp. O.G., Subsp. Onk. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Guru Besar Universitas Brawijaya (UB) yang akan dikukuhkan, pada Selasa (10/2/2026), Prof. Dr. dr. Tatit Nurseta, Sp. O.G., Subsp. Onk, mengungkap, tren kasus hamil anggur atau mola hidatidosa terus meningkat dari tahun ke tahun.

Prof. Tatit menekankan, kunci pencegahan justru bisa dimulai dari pola makan perempuan sebelum hamil.

"Pada hamil anggur, kehamilan itu tidak menjadi janin. Janinnya tidak terbentuk karena sel telur yang dihasilkan tidak sempurna," ujar Prof. Tatit, Senin (9/2/2026).

Dikatakannya, secara ilmiah terdapat 2 penyebab utama. Pertama, ovum kosong, yakni sel telur yang seharusnya mengandung 23 kromosom ditambah kromosom X, namun tidak terbentuk dengan sempurna. 

Kedua, sel telur memang mengandung kromosom, tetapi tidak sempurna sehingga dapat dibuahi oleh lebih dari satu sperma. Padahal secara normal, satu sel telur hanya dapat dibuahi oleh satu sperma.

Menurutnya, selama ini pemahaman masyarakat mengaitkan hamil anggur dengan faktor sosial ekonomi rendah atau kurangnya pengetahuan gizi. Namun, secara epidemiologi, ia menemukan faktor pemicu yang lebih luas dan relevan dengan gaya hidup modern.

"Sekarang ini banyak makanan mengandung bahan kimia. Kemudian pola makan dengan diet glikemik, misalnya makan nasi lauknya mi instan, minumnya teh manis. Ini salah gizi yang sering terjadi," terangnya.

Selain itu, indeks massa tubuh (BMI) tinggi juga disebut berkontribusi terhadap risiko hamil anggur. Perempuan dengan BMI di atas 28 atau berat badan lebih dari 70 kilogram dinilai memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan kualitas sel telur.

Berangkat dari temuan tersebut, Prof. Tatit merancang sebuah model preventif yang ia sebut PERMATA MOLA. Model ini menekankan pencegahan hamil anggur tidak dimulai di ruang operasi, melainkan dari asupan nutrisi harian perempuan.

"Pencegahan hamil anggur itu bukan di rumah sakit, bukan di kamar operasi, tetapi ada di piring wanita," tegasnya.

Ia menjelaskan, diet tinggi protein berperan penting dalam mencegah terbentuknya sel telur yang kosong, karena protein berfungsi memenuhi kebutuhan pembentukan DNA. Selain itu, vitamin A membantu menjaga sel-sel yang berkaitan dengan kehamilan agar tidak berkembang secara abnormal.

Peran tersebut diperkuat oleh vitamin D yang bekerja sama dengan vitamin A untuk menstabilkan sel agar tidak mudah rusak. Sumber vitamin D, lanjutnya, sangat mudah diperoleh di Indonesia sebagai negara tropis dengan paparan sinar matahari melimpah.

Sementara itu, vitamin A dan antioksidan dapat diperoleh dari sayur dan buah, khususnya tumbuhan hijau yang mengandung klorofil. Kandungan antioksidan dinilai penting untuk menjaga kualitas sel reproduksi perempuan.

Karena itu, ia menilai upaya pencegahan hamil anggur membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Tidak hanya dokter dan akademisi, tetapi juga lembaga pendidikan hingga Kantor Urusan Agama (KUA) melalui edukasi pranikah.

 

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.