08 February 2026

Get In Touch

Sudah Jatuh, Tertimpa Tangga

Subakti Sidik, Wartawan Senior
Subakti Sidik, Wartawan Senior

OPINI (Lentera) -Sudah jatuh. Tertimpa tangga pula. Makin bonyok Bro! Barang kali itu perumpamaan yang cocok buat kondisi Pasar Modal Indonesia saat ini.

Sementara gempa MSCI (Morgan Stanley Capital lnternational) belum pulih. Eiiittt......!!!. Nongol lagi guncangan. 

Kali ini dari Moodys. Ya, Moodys Investors Service. Alamak.....!!!. Latah pula kau ini. Ikut-ikutan aja. Mengail di air keruh?

Kalo MSCI lebih menyoroti praktek perdagangan serta struktur kepemilikan emiten pasar modal.  

Moodys mengeluarkan outlook perekonomian Indonesia negatif.

Sebagai lembaga pemeringkat kredit dunia, ya sah-saja. Memang itu pekerjaannya. Tapi momennya itu lho. Kok bertepatan. 

Ada geger MSCI,  ikutan nimbrung. Itu sih memang cuma ramalan. Tapi mahluk yang namanya investor, sangat sensitif terhadap isu-isu seperti itu

Memang, goyangan kali ini, tak sekuat MSCI. Jika gempa MSCI 6 skala richter, mungkin goyangan Moodys hanya 4 atau 3.  

Tapi ini adalah gempa kali ke sekian. Gempa MSCI saja, belum reda. Investor masih megap-megap. Malah ditambahi lagi. Sialan loe...!!!

Maka, petaka kedua ini bahkan terasa lebih berat. Ampun........!!!.

Alamat apa yang akan terjadi ke depan pada pasar modal Indonesia? 

Yang jelas, setelah ada outlook Moodys, guncangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) semakin dahsyat. 

Mari kita tengok. Jumat 06/02/2006, IHSG dibuka, langsung memerah. Terus meluncur deras dan ditutup di angka 7.874. Atau turun 229,46 point (2,83%). Padahal, sehari sebelumnya IHSG ditutup 8.103.

Jika Senin 09/02/2006 nanti IHSG makin anjlok, tentu makin mengkhawatirkan. Dalam outlook itu, Moodys menyoroti meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan tata kelola pemerintah bisa berpengaruh pada konsistensi arah fiskal.

Moodys juga menurunkan prospek ekonomi  Indonesia dari  STABIL ke NEGATIF. Tapi tidak ada penurunan status. Tetap berstatus Baa2. Dengan peringkat itu, artinya  Indonesia masih dianggap AMAN & LAYAK untuk investasi. 

Mengalir Deras

Namun reaksi pasar di luar dugaan. Terlihat dalam  "Top Frequency", angka-angka dalam kolom jual, arusnya mengalir deras sekali.

Itu artinya, investor berebut melego sahamnya. Dipelopori asing, investor domestik pun tak mau kalah. 

Walhasil, harga saham pun berguguran. Triliunan rupiah terbang. Sebagian besar ke mancanegara. Good bye man......!!!

Tak hanya saham kongklomerasi. Saham Bluechip yang terkenal tahan banting, pun tak mampu menahan laju penurunan. Hanyut pula. 

BBCA yang sehari sebelumnya masih 7.800, drop menjadi 7.675. Begitu pun BBRI dari 3.920 turun jadi 3.780. Padahal, dua saham ini adalah andalan IHSG.

Pembelinya, banyak investor  asing. Jika harga saham ini naik signifikan, berarti banyak investor asing berinvestasi. Sebaliknya, kalau harga berguguran. Berarti investor asing angkat kaki, saat harga-harga saham sedang turun sekarang ini.  

Inilah waktunya serok di harga murah. Pesta di harga diskon. Tentu bagi yang masih punya uang.

Investor ritel yang sudah kobol-kobol, tak mungkin belanja lagi.  Jika mungkin, mereka berharap uangnya bisa kembali.

Melihat kekacauan ini,  pemerintah pun cepat merespon. "Funndamental perekonomian Indonesia kuat," ujarnya. Sementara banyak negara pertumbuhan ekonominya melambat. 

Indonesia justru masih tumbuh di atas 5%. Belakangan, diumumkan pula, PDB Income per kapita penduduk Indonesia menjadi US $ 5.000. Hebat.....!!!

Ini berarti mengalami kenaikan. Tahun 2022, masih di angka US $ 4.783. Dengan angka US $ 5.000.  Indonesia termasuk dalam golongan negara berpenghasilan  menengah atas. Istilah kerennya Upper- middle Income Country.

Ini berarti perekonomian negeri ini tumbuh dan berkembang. Ini potensi investasi bagi investor asing. 

BEI juga cepat beraksi melakukan reformasi integritas dalam transparansi seperti yang diminta MSCI.

Apakah aksi yang sedang dan akan dilakukan pemerintah dan BEI direspon baik oleh investor?  Kita lihat saja IHSG pekan depan. 

Harus selalu diingat, investasi itu menyangkut kepercayaan (trust). Jangan main-main spekulasi yang berpotensi mengurangi trust.

Jika trust hilang. Investor asing tak akan datang. Demikian pula investor lokal.

Jagalah. BEI dan OJK jangan diintervensi. Suara-suara yang menyebut pihak Danantara ikut dalam rapat2 reformasi pasar modal harus diperhatikan.

Ah...ngapain sih? Ingin tahu aja. Lembaga ini rupanya akan menjadi financial investor di BEI. Jika sampai intervensi, artinya tak ada lagi indepedensi. Muncul masalah lagi (*)

Penulis: Subakti Sidik, Wartawan Senior|Editor: Arifin BH

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.