07 February 2026

Get In Touch

Gadis Kecil dari Stasiun Kranji…

Foto: seorang gadis kecil memimpin tiga wanita dan dua pria buta naik kereta di stasiun Kranji, Bekas (Eko Wienarto)
Foto: seorang gadis kecil memimpin tiga wanita dan dua pria buta naik kereta di stasiun Kranji, Bekas (Eko Wienarto)

KOLOM (Lentera) -Kawan saya wartawan senior tinggal di Bekasi, Eko Wienarto mengirim foto dari stasiun kereta api Kranji, Bekasi.  

cerita dari st.kranji,

seorang gadis kecil memimpin tiga wanita dan dua pria buta naik kereta.

semoga berkah Alkah SWT untuk gadis kecil dan mereka.

Aamiin.

Lewat WhatsApp saya kirim pesan, dengan nada bertanya: “Mengapa fotonya tidak dari depan?”

Jawabnya: “Maeng sengaja dr belakang, soalnya masih anak2 (Sengaja difoto dari belakang, sebab mereka masih anak-anak)”

Saya paham. Eko, teman kuliah di Akademi Wartawan Surabaya -sekarang Stikosa-AWS, tidak ingin berpolemik soal foto tersebut.

Kawan seperjuangan pada awal pendirian Harian Surya itu delapan tahun pernah berada di Sumba, Nusa Tenggara Timur(NTT). Sangat hafal situasi kehidupan disana.

Tidak secara kebetulan, saat ini sedang terjadi kasus bunuh diri seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada -NTT.

Kasus ini membuat sesak dada. Semua orang ikut memberi komentar.

Pemenuhan hak dasar anak disorot usai adanya tragedi kasus bunuh diri siswa SD berinisial YBS (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tragedi tersebut diduga dipicu oleh ketidakmampuan keluarga memenuhi permintaan korban untuk membeli buku dan alat tulis.

Tragedi bunuh diri pada anak usia 10 tahun yang baru saja terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, menjadi alarm keras di tengah kesunyian yang masih sering diabaikan masyarakat. Banyak orang bertanya bagaimana anak sekecil itu memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup.

Namun, di balik itu semua, ada sistem yang secara sistematis gagal melindungi mereka. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengungkapkan bahwa bunuh diri bukan hanya isu usia dewasa. Kejadian bunuh diri juga bisa muncul pada kelompok usia muda, bahkan anak-anak, saat distres atau pemicu masalah psikologis muncul di tengah ketiadaan dukungan emosional.

Psikiater yang juga anggota bidang pengabdian masyarakat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP PDSKJI) Lahargo Kembaren dihubungi di Jakarta, Selasa (3/2/2026), menyampaikan, anak usia 9-10 tahun sudah mulai paham bahwa kematian merupakan sesuatu yang permanen. Meski begitu, mereka memang belum matang secara emosional dan kognitif.

Anak belum mampu menimbang konsekuensi jangka panjang. Cara berpikir mereka juga masih konkret antara hitam dan putih. Saat mereka merasa tertekan, anak dengan mudah memiliki kesimpulan yang ekstrem bahwa jika mereka tidak ada, masalah pun akan selesai.

”Pada anak, bunuh diri bukan soal kematian, tetapi tentang keputusasaan yang tidak punya bahasa. Anak tidak sedang ingin mati, ia sedang tidak tahu bagaimana caranya hidup dengan beban yang terlalu berat,” kata Lahargo.

Menurut Lahargo, masalah ekonomi saat ini semakin berpengaruh pada keinginan anak untuk mengakhiri hidup. Masalah ini memang secara tidak langsung memengaruhi kondisi anak, tetapi dampaknya amat mendalam.

Meski tidak selalu paham, anak bisa menyerap stres yang dialami orangtua akibat faktor ekonomi. Anak pun sering merasa dirinya menjadi penyebab kesulitan keluarga. Akibatnya, anak merasa bersalah dan bertanggung jawab atas kondisi tersebut.

Sementara itu psikiater sekaligus Direktur Utama Pusat Kesehatan Jiwa Nasional Rumah Sakit Jiwa dr H Marzoeki Mahdi Bogor Nova Riyanti Yusuf, kepada Kompas menambahkan, tindakan bunuh diri pada anak jarang terjadi karena didorong oleh keinginan untuk mati.

Bunuh diri pada anak lebih banyak didorong karena keinginan untuk menghentikan rasa sakit atau tertekan, perasaan merasa tidak didengar, rasa bersalah atau putus asa, dan impulsivitas tanpa memahami konsekuensi yang permanen. ”Jadi, sering kali anak tidak benar-benar memahami bahwa kematian itu irreversible (tidak bisa dibalik),” tuturnya.

Fenomena bunuh diri pada anak dan remaja semakin menjadi perhatian serius. Data WHO menunjukkan, satu dari tujuh remaja usia 10-19 tahun mengalami gangguan mental yang menyumbang setidaknya 15 persen dari penyakit global di usia tersebut. Bunuh diri pun tercatat sebagai penyebab kematian ketiga terbesar pada kelompok usia 15-29 tahun.

Kekhawatiran tersebut tidak hanya masalah global, tetapi juga di Indonesia. Kasus bunuh diri meningkat seiring dengan meningkatnya tekanan sosial-ekonomi serta tekanan dari media digital.

Merujuk data Global School-Based Student Health Survey (GSHS) 2023, kasus percobaan bunuh diri pada anak usia 13-17 tahun meningkat signifikan. Berdasarkan survei di Sumatera, Jawa, dan Bali tersebut, persentase percobaan bunuh diri pada usia tersebut meningkat dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023 (*)

Pemimpin Redaksi Lentera Media

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.