MADIUN (Lentera) -Komisi D DPRD Kabupaten Madiun melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah proyek rehabilitasi sekolah menemukan indikasi pekerjaan yang belum tuntas. Di SMP Negeri 2 Nglames, dinding bangunan senilai Rp1,8 miliar terpantau mengalami bocor oleh rembesan air.
Meski konsultan pengawas, mengatakan persoalan itu disebabkan kebocoran talang dan disebut telah diperbaiki, namun Komisi D memberi catatan agar mutu pekerjaan publik tidak berhenti pada klaim penyelesaian teknis.
“Sudah diperbaiki. Ini menjadi catatan agar ke depan lebih diperhatikan. Secara umum hasilnya baik,” ujar Wakil Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Madiun, Djoko Setijono, Rabu (7/1/2026).
Sidak tidak hanya dilakukan di SMP Negeri 2 Nglames, tetapi juga ke SMP Negeri 2 Mejayan dan SMP Negeri 1 Kebonsari — proyek dengan nilai anggaran relatif besar. Djoko menegaskan, pengawasan dilakukan sebagai bagian dari fungsi kontrol setelah proyek dinyatakan selesai.
“Secara umum pekerjaan berjalan baik dan tidak melewati masa kontrak. Tidak ada masalah besar, meski ada beberapa catatan kecil yang tetap harus diperhatikan,” katanya.
Ia menyebutkan, sidak dilakukan secara sampling karena keterbatasan waktu, dengan prioritas pada proyek bernilai kontrak tinggi untuk memastikan penggunaan APBD sesuai standar mutu.
Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun, Nur Arif Indro Karyoto, membenarkan hanya tiga sekolah yang memiliki kontrak di atas Rp1 miliar.
“Yang di atas satu miliar ada tiga lembaga: SMP Negeri 2 Mejayan, SMP Negeri 2 Nglames, dan SMP Negeri 1 Kebonsari. Total keseluruhan sekitar Rp10 miliar untuk 11 lembaga,” ujarnya.
Seluruh proyek itu dibiayai dari APBD Kabupaten Madiun Tahun Anggaran 2025. Meski dinilai berjalan baik, temuan rembesan pada bangunan bernilai miliaran rupiah menunjukkan kurangnya pengawasan pekerjaaan pada proyek tersebut.
Reporter: Wiwiet Eko Prasetyo|Editor: Arifin BH





.jpg)
