01 December 2025

Get In Touch

Sepanjang 2025, Dinkes Catat Temuan 300 Kasus HIV Baru di Kota Malang

Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif. (Santi/Lentera)
Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Sepanjang 2025, tercatat sekitar 300 temuan kasus HIV baru di Kota Malang dengan mayoritas dari kelompok usia produktif.

Data tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif yang menyebut rentang usia 15 hingga 59 tahun masih mendominasi dalam temuan kasus baru HIV di wilayahnya.

"Kalau tahun 2025 penderita baru itu sekitar 300-an. Pastinya berapa, saya lupa. Tapi sekitar angka itu untuk penderita HIV baru, artinya yang kasusnya baru ditemukan di Kota Malang," ujar Husnul, Jumat (28/11/2025).

Ditambahkannya, dari total temuan baru tersebut, sekitar 30 persen merupakan warga Kota Malang, sedangkan sisanya berasal dari luar daerah. Dominasi pasien dari luar wilayah termasuk dari kelompok mahasiswa yang berdomisili sementara di Kota Malang.

"Di luar Kota Malang, ada mahasiswa juga banyak," tambah Husnul.

Sementara itu, jika dihitung secara keseluruhan, jumlah orang dengan HIV yang masih dalam penanganan di Kota Malang mencapai hampir 3.000 orang. Angka itu berbeda dengan total keseluruhan pasien HIV yang pernah melewati tahap pengobatan pertama, yang jumlahnya mencapai sekitar 6.000 orang.

Menurut Husnul, pasien-pasien tersebut tersebar di berbagai titik layanan, baik rumah sakit maupun puskesmas yang menjadi lokasi pengobatan HIV.

Terkait faktor penularan, Husnul menilai perubahan perilaku menjadi penyebab terbesar. Salah satunya adalah aktivitas LSL atau laki-laki seks dengan laki-laki yang mencatatkan kontribusi cukup tinggi dalam penularan kasus HIV. Sementara penularan melalui jalur lain, seperti dari ibu ke anak, jumlahnya sangat sedikit.

Untuk mengantisipasi peningkatan kasus, Husnul menyebut telah memperluas akses layanan pemeriksaan melalui fasilitas Voluntary Counselling and Testing (VCT) di seluruh puskesmas dan rumah sakit. Pada layanan tersebut, masyarakat mendapatkan konseling sebelum menjalani pemeriksaan HIV.

Selain VCT reguler, Dinkes juga menerapkan Mobile VCT, yang digelar di sejumlah titik bekerja sama dengan komunitas-komunitas pendukung. "Kami juga memberikan layanan Mobile VCT ke beberapa titik yang sudah dikoordinir oleh komunitas-komunitas layanan itu," jelasnya.

Di sisi lain, edukasi dan sosialisasi menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan. Husnul menyampaikan, penyuluhan rutin diberikan mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga tingkat atas. Edukasi juga dilakukan melalui komunitas saat mereka mengakses layanan kesehatan.

"HIV itu pengobatannya selamanya. Sehingga bagaimana klien kita, penyintas kita itu tidak memberikan peluang untuk transmisi kepada yang lain," kata Husnul.

 

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.